Mengelola Gen Z di Era Hybrid dengan Predictive Analytics
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja baik di Indonesia maupun secara global mengalami perubahan yang sangat cepat. Dimulai dari guncangan pandemi, penerapan kerja jarak jauh dan hybrid, hingga percepatan digitalisasi di hampir seluruh sektor industri.
Di tengah dinamika tersebut, perusahaan menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya manusia, khususnya terkait meningkatnya risiko resign dini pada karyawan usia muda (Generasi Z). Tantangan ini tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional, melainkan membutuhkan strategi yang lebih adaptif dan berbasis data.

Berdasarkan survei yang dirilis oleh JakPat, tingkat retensi kerja Generasi Z di Indonesia cenderung relatif singkat. Survei terbaru menunjukkan bahwa 69% Gen Z memiliki rencana untuk meninggalkan pekerjaannya dalam dua tahun ke depan. Angka ini mengkhawatirkan bagi banyak perusahaan dan menimbulkan pertanyaan tentang apa yang mendorong generasi muda ini untuk mencari peluang baru.
Survei tersebut juga mencatat bahwa 41% Gen Z memilih resign karena merasa gaji yang diterima tidak memuaskan. Ketidakpuasan ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya biaya hidup, stagnasi pendapatan, hingga ekspektasi kerja yang tidak seimbang dengan kompensasi yang diberikan.
Di sisi lain, terdapat pula kesenjangan antara ekspektasi talenta muda dan realitas dunia kerja. Tidak sedikit perusahaan menetapkan standar kualifikasi yang tinggi, tetapi belum diimbangi dengan skema remunerasi dan program pengembangan karier yang memadai. Kondisi tersebut tentu berpotensi mempercepat risiko resign dini, terutama jika tidak didukung sistem pengelolaan SDM yang tepat.
Faktor Non-Kompensasi yang Memicu Resign
Selain faktor gaji, keputusan resign di kalangan Generasi Z juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor non-finansial, antara lain:
- Ketidakjelasan jalur karier dan peluang pengembangan diri
- Berakhirnya masa kontrak kerja tanpa kepastian lanjutan
- Lingkungan kerja yang kurang kondusif
- Rutinitas pekerjaan yang monoton dan minim tantangan
- Relasi kerja yang tidak sehat dengan atasan atau tim
Faktor-faktor tersebut sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap melalui penurunan engagement, perubahan perilaku kerja, hingga meningkatnya tingkat absensi terselubung.
Predictive Analytics Sebagai Solusi Proaktif Mengelola Risiko Resign Karyawan
Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju pengelolaan risiko SDM yang proaktif dan berbasis data.
Salah satu pendekatan strategis yang relevan adalah penerapan Predictive Analytics dalam Manajemen Sumber Daya Manusia. Pendekatan ini dirancang sebagai early warning system untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini, mulai dari penurunan engagement, mangkir kerja terselubung, hingga risiko resign.
Predictive Analytics bekerja dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, antara lain:
- Data presensi dan pola kehadiran
- Produktivitas dan beban kerja
- Riwayat performa serta perubahan perilaku
- Pola lembur, klaim, dan aktivitas yang tidak wajar
Dengan analisis pola dan tren data tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko sebelum berdampak langsung pada operasional.
Dampak Bagi Karyawan Generasi Z
Ketika perusahaan mampu memitigasi risiko resign secara proaktif melalui pendekatan Predictive Analytics, dampak positifnya tidak hanya dirasakan oleh organisasi, tetapi juga langsung oleh karyawan Generasi Z sebagai individu.
Insight yang dihasilkan memungkinkan perusahaan melakukan intervensi lebih awal sebelum kejenuhan, tekanan, atau ketidakpuasan berkembang menjadi keputusan resign. Intervensi ini dapat berupa penyesuaian beban kerja, program pembinaan dan coaching yang relevan, komunikasi yang lebih terbuka dengan atasan, serta perancangan strategi pengembangan karier yang lebih jelas dan realistis.
Bagi Generasi Z, keterlibatan manajemen dalam mengantisipasi peluang resign bisa menciptakan sejumlah dampak nyata, antara lain:
- Rasa aman dan kepastian kerja yang lebih tinggi
Karyawan merasa diperhatikan dan dipahami, bukan sekadar dinilai dari hasil akhir atau angka performa semata. - Keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi yang lebih sehat
Beban kerja yang lebih terkelola membantu menekan kelelahan mental dan risiko burnout di fase awal karier. - Produktivitas dan kualitas kerja yang meningkat
Karyawan yang merasa didukung cenderung lebih fokus, konsisten, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. - Sikap kerja yang lebih profesional dan dewasa
Dengan arahan dan pembinaan yang tepat, Gen Z lebih siap menghadapi tantangan kerja dan membangun etika profesional jangka panjang. - Kepuasan kerja dan engagement yang lebih berkelanjutan
Bukan sekadar “betah”, tetapi memiliki alasan yang jelas untuk tumbuh dan berkembang bersama perusahaan.
Pada akhirnya, mitigasi risiko resign bukan hanya soal mempertahankan karyawan, melainkan membentuk pengalaman kerja yang lebih sehat bagi Generasi Z sehingga mereka dapat berkembang menjadi talenta yang produktif, profesional, dan berkontribusi secara berkelanjutan bagi organisasi.
Conclusion
Mengelola karyawan Gen Z memang bukan sekadar menuntut disiplin atau loyalitas, melainkan tentang membangun sistem pengelolaan SDM yang adaptif, transparan, dan berbasis data. Dengan Predictive Analytics, perusahaan diharapkan dapat mendeteksi risiko resign lebih awal secara lebih strategis, tidak lagi menangani ketika masalah sudah terlanjur terjadi.
Pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi perusahaan dalam menghadapi dinamika dunia kerja hybrid sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi ke depan.
Neuron AI Predictive Analytics hadir sebagai solusi strategis untuk membantu perusahaan membaca sinyal risiko resign bahkan sebelum karyawan menyadarinya sendiri. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan analisis perilaku berbasis data HC, Neuron tidak hanya menampilkan angka, tetapi memberikan early warning insight yang actionable siapa yang berisiko, mengapa risikonya muncul, dan intervensi apa yang paling relevan.
Klik di sini untuk eksplorasi artikel menarik dari berbagai topik →
📩 Email: marketing@neuronworks.co.id
🌐 Website: www.neuronworks.co.id
📞 WhatsApp: +62 811-2127-696


Have any question?