Mengenal Workforce Orchestrator: Peran Baru di Era AI

Mengenal Workforce Orchestrator: Peran Baru di Era AI

Perkembangan AI mulai mengubah cara perusahaan dalam membangun dan mengelola tenaga kerja. AI tidak lagi hanya digunakan sebagai alat bantu, tetapi mulai berkembang menjadi AI agent yang dapat menjalankan tugas dan workflow tertentu secara lebih mandiri.

Perubahan ini kemudian melahirkan sebuah peran baru dalam dunia kerja: Workforce Orchestrator.

Apa Itu Workforce Orchestrator?

Workforce Orchestrator adalah sebuah peran khusus yang berfokus pada pengelolaan manusia, AI agents, dan teknologi otomatisasi agar dapat bekerja bersama dalam satu ekosistem organisasi.

Sederhananya. Peran ini membantu perusahaan menentukan pekerjaan mana yang sebaiknya dilakukan manusia, mana yang dapat didelegasikan kepada AI, serta bagaimana keduanya dapat berkolaborasi secara efektif.

Karena itu, Workforce Orchestrator tidak hanya berbicara tentang teknologi. Perannya juga berkaitan dengan workforce planning, skills, workflow, produktivitas, hingga perubahan cara kerja organisasi.

Siapa yang Mengenalkan Konsep Ini?

Istilah Workforce Orchestrator mulai mendapatkan perhatian luas pada 2026 melalui pembahasan mengenai hybrid workforce.

the-adecco-group

The Adecco Group menjadi salah satu pihak yang secara eksplisit mengangkat konsep hybrid workforce orchestration dalam whitepaper “On the Threshold: AI, the Future of Work and the Rise of Hybrid Labor Markets.”

Konsep tersebut kemudian mendapat perhatian lebih luas setelah Financial Times pada Juli 2026 mengangkat “workforce orchestrator” sebagai salah satu emerging job di eraAI. Financial Times juga mengutip Denis Machuel, CEO The Adecco Group, mengenai kebutuhan untuk mengintegrasikan manusia dengan AI agent dan teknologi otomatisasi. Hal ini bertujuan agar memhami bagaimana dampak dari proses otomatisasi yang terjadi antara manusia dengan AI Agent itu seendiri.

Artinya, istilah ini bukan profesi yang secara resmi “diciptakan” oleh Microsoft. Microsoft lebih berperan dalam membangun konteks human-AI collaboration melalui konsep Frontier Firm dan perkembangan AI agent.

Mengapa Peran Ini Mulai Dibutuhkan?

Ketika AI agents mulai mengambil bagian dalam workflow perusahaan, pembagian kerja menjadi semakin kompleks.

Perusahaan perlu memahami:

  • Pekerjaan apa yang dapat diotomatisasi?
  • Kompetensi apa yang tetap membutuhkan manusia?
  • Skill baru apa yang harus dikembangkan?
  • Bagaimana manusia dan AI bekerja dalam satu workflow?
  • Bagaimana memastikan penggunaan AI tetap berada dalam governance perusahaan?

Dalam working paper “The Future of Work in the Age of Automation, Augmentation, and Agentic AI”, Sol Rashidi dari Harvard Kennedy School memperkenalkan konsep Orchestrator sebagai systems architect dalam organisasi berbasis AI. Peran ini bertugas merancang dan mengoptimalkan pembagian kerja antara manusia dan intelligent systems. Termasuk menentukan aktivitas yang perlu diotomatisasi, diperkuat oleh AI, atau tetap dilakukan oleh manusia.

Dalam praktiknya. Orchestrator juga perlu mengelola keterhubungan antara AI agents, data, proses bisnis, governance, dan human expertise. Agar penggunaan AI tetap selaras dengan tujuan organisasi.


Apa Artinya bagi HR?

Kemunculan Workforce Orchestrator menunjukkan bahwa fungsi HR juga sedang mengalami perubahan.

HR tidak lagi hanya perlu memahami siapa yang bekerja di dalam organisasi, tetapi juga bagaimana pekerjaan dilakukan dan bagaimana manusia berkolaborasi dengan AI. Karena itu, kemampuan seperti workforce planning, skills mapping, AI literacy, reskilling, dan people analytics menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, Workforce Orchestrator bukan sekadar tentang munculnya satu jabatan baru. Konsep ini menunjukkan perubahan yang lebih besar dalam dunia kerja: HR mulai bergerak dari mengelola human workforce menuju merancang bagaimana human and AI workforce dapat bekerja bersama.

Email: marketing@neuronworks.co.id       
🌐 Website: www.neuronworks.co.id       
📞 WhatsApp: +62 811-2127-696    

Berita Rekomendasi

Mengenal Teknologi SAOT di Piala Dunia 2022

12/11/2024

Getting to Know SAOT Technology at the 2022 World Cup

Quoting the Suara.com page. FIFA has announced that semi-automated offside technology (SAOT) or semi-automated offside technology will be used at the 2022 FIFA World Cup in Qatar. What is Semi-automated Offside Technology? Yu listen...

View
Tips Meningkatkan Logika Pemrograman

11/11/2024

Tips for Improving Programming Logic

Programming logic is the process of various possibilities that occur in our program and provides instructions to the computer to perform tasks according to the program. This is where the art of programming languages, namely programming logic, is the same...

View
Mengenal Shadow ERP dan Dampaknya Bagi Perusahaan

16/07/2026

Mengenal Shadow ERP dan Dampaknya Bagi Perusahaan

Pertumbuhan teknologi informasi yang pesat sering kali menciptakan fenomena unik di dalam lingkungan korporasi. Salah satu tren yang kini banyak menyita perhatian para praktisi teknologi adalah munculnya fenomena Shadow ERP.…

View